Pencarian
Generative AI

Artikel 2: Menulis Skripsi di Era ChatGPT: Peluang Baru atau Ancaman Akademik?

Di tengah era transformasi digital global, mahasiswa Indonesia kini dihadapkan pada pertanyaan yang paling mendasar: "Bolehkah skripsi saya ditulis dengan bantuan ChatGPT?"

Prompter JejakAI
Minggu, 3 Agustus 2025
Oleh: Dimasti Dano
JejakAI
Leonardo AI

Munculnya teknologi Generative AI seperti ChatGPT telah mengguncang dunia pendidikan. Tak hanya sekadar alat bantu, AI kini dengan prompt engineering yang tepat, mampu merangkum literatur, menyusun kerangka argumen, bahkan menuliskan bab demi bab dalam hitungan menit. Tapi, di balik kemudahan itu, tersembunyi tantangan serius soal integritas akademik, etika, dan kualitas pembelajaran.

Baca juga: Integrasi Kecerdasan Buatan dalam Jet Tempur Siluman J-20 dan Tantangan Sistem Deteksi Modern di Asia Timur

Antara Manfaat dan Bahaya

Sebuah kajian dari Wharton School (Mollick & Mollick, 2023) menunjukkan bahwa ChatGPT dapat memainkan berbagai peran dalam proses belajar: mentor yang memberi umpan balik, tutor untuk menjelaskan konsep sulit, hingga "rekan tim" yang membantu brainstorming. Dengan kata lain, ChatGPT bisa jadi partner belajar yang powerful—asalkan digunakan dengan bijak.

Namun, seperti yang diingatkan dalam panduan resmi dari The Chinese University of Hong Kong (2025), AI bukanlah menjadi substitusi berpikir manusia. Mahasiswa harus tetap bertanggung jawab atas isi dan kualitas skripsinya. Penggunaan tanpa panduan bisa menjebak mahasiswa dalam "jebakan kesempurnaan semu"—naskah terlihat rapi tapi miskin pemahaman dan refleksi kritis.

Baca juga: Belajar dari China: Saat AI Bukan Lagi Ancaman, Tapi Keterampilan Akademik

Regulasi dan Etika: Di Mana Posisi Indonesia?

Berbeda dengan Hong Kong yang sudah merancang pendekatan penggunaan AI dalam empat kategori (dilarang total hingga bebas tanpa pengakuan), Indonesia dirasakan masih minim kebijakan formal dalam konteks perguruan tinggi. Beberapa kampus mulai mengembangkan aturan internal, namun belum ada standar nasional yang mengatur penggunaan AI dalam penyusunan skripsi.

Ini tentu memunculkan area abu-abu. Banyak mahasiswa yang "mencoba-coba" menggunakan ChatGPT,salah satu alasannya untuk kemudahan atau  untuk efisiensi waktu, tapi tidak memahami implikasi akademik dan etisnya. Di sinilah pentingnya AI literacy—kemampuan memahami, mengevaluasi, dan mengelola output AI dengan kritis.

Haruskah ChatGPT Diizinkan dalam Penulisan Skripsi?

Halaman 1 2
Komentar
Silakan lakukan login terlebih dahulu untuk bisa mengisi komentar.
JejakAI
Exploring AI for Humanity
JejakAI adalah situs web yang membahas berita, tren, dan perkembangan terbaru seputar kecerdasan buatan, menghadirkan analisis mendalam serta informasi terkini tentang inovasi di dunia AI.
Copyright © 2026 JejakAI. All Rights Reserved. | dashboard